Skip to content
Kembali

Menjadi Muslim Totalitas

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Ada satu pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi sangat mendasar:

Apakah kita benar-benar sudah menjadi Muslim?

Banyak orang lahir dari keluarga Muslim. Nama Islam melekat sejak kecil. Shalat dilakukan. Puasa dijalankan. Kalimat-kalimat Islami akrab di telinga.

Namun pertanyaannya bukan sekadar: apakah kita beragama Islam?

Yang lebih penting adalah:

Apakah Islam benar-benar menjadi cara kita memandang dan menjalani kehidupan?

Sebab Islam bukan sekadar identitas. Islam bukan hanya ritual mingguan, bukan pula sekadar suasana Ramadhan atau acara keagamaan.

Islam datang sebagai petunjuk hidup manusia secara menyeluruh.

Karena itu Allah tidak mengatakan:

“Masuklah ke dalam Islam pada bagian yang kalian suka.”

Allah juga tidak memerintahkan:

“Jadikan Islam hanya untuk urusan ibadah pribadi.”

Yang Allah perintahkan justru sangat tegas:

Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.

Inilah makna menjadi Muslim totalitas.

Totalitas Bukan Berarti Sempurna

Ketika mendengar kata totalitas, sebagian orang langsung membayangkan sosok tanpa dosa, sangat alim, hafal Al-Qur’an, atau sempurna dalam seluruh amalnya.

Padahal bukan itu maksudnya.

Totalitas bukan berarti seseorang sudah tidak punya kekurangan.

Totalitas adalah soal arah berpikir dan komitmen hidup.

Yaitu ketika seseorang menerima Islam sebagai kebenaran yang datang dari Allah secara menyeluruh. Ia menjadikan aqidah Islam sebagai landasan berpikir, lalu menjadikan syariat Allah sebagai standar dalam menjalani kehidupan.

Artinya, Islam tidak lagi diposisikan sekadar pelengkap hidup.

Bukan hanya dipakai saat di masjid, tetapi ditinggalkan saat berbicara ekonomi. Bukan hanya dikutip saat ceramah, tetapi dianggap tidak relevan ketika membahas politik, pendidikan, media, atau aturan masyarakat.

Di sinilah masalah besar banyak kaum Muslim hari ini.

Islam diterima pada wilayah ritual, tetapi disingkirkan dari wilayah kehidupan.

Shalat dijaga, tetapi riba dianggap biasa. Kajian dihadiri, tetapi hukum buatan manusia dianggap lebih realistis. Semangat hijrah tinggi, tetapi cara berpikir sekular tetap dipakai.

Akhirnya lahir kepribadian yang terpecah.

Di masjid berbicara tentang akhirat. Di pasar memakai aturan kapitalisme. Di politik memakai sekularisme. Di media mengikuti standar hawa nafsu.

Padahal Islam tidak pernah datang hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya semata.

Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesama manusia.

Karena Islam bukan sekadar agama ritual.

Islam adalah mabda’ — sebuah sistem kehidupan yang lahir dari aqidah dan berasal dari Allah SWT.

Kenapa Islam Harus Diterima Secara Menyeluruh?

Karena kebenaran tidak bisa diterima setengah-setengah.

Bayangkan seseorang berkata:

“Saya percaya dokter ini ahli, tapi obatnya hanya saya minum yang rasanya enak.”

Atau:

“Saya yakin petunjuk jalan ini benar, tapi saya hanya mau mengikuti sebagian arah saja.”

Terdengar aneh.

Tetapi sering kali itulah yang terjadi dalam kehidupan beragama.

Manusia mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi aturan hidup justru diambil dari selain-Nya.

Padahal jika Allah yang menciptakan manusia, maka Allah pula yang paling mengetahui aturan terbaik bagi manusia.

Allah SWT berfirman:

“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”
(QS. Al-Baqarah: 85)

Ayat ini bukan sekadar teguran kepada umat terdahulu. Ia juga menjadi peringatan bagi siapa saja yang menjadikan agama hanya sebatas bagian yang nyaman bagi dirinya.

Masalah umat hari ini bukan karena Islam terlalu banyak diterapkan.

Justru sebaliknya.

Islam terlalu lama dipinggirkan dari kehidupan.

Akibatnya, manusia hidup di bawah sistem yang lahir dari akal manusia yang lemah dan terbatas. Sistem yang hari ini dipuja, besok berubah. Yang hari ini dianggap solusi, beberapa tahun kemudian justru melahirkan krisis baru.

Lihatlah dunia hari ini.

Teknologi maju, tetapi manusia makin gelisah. Ekonomi tumbuh, tetapi ketimpangan makin parah. Kebebasan diagungkan, tetapi kerusakan moral meluas. Pendidikan tinggi, tetapi kehilangan arah hidup makin nyata.

Mengapa?

Karena manusia mencoba mengatur kehidupan tanpa petunjuk dari Penciptanya.

Inilah akar persoalannya.

Kerusakan bukan sekadar karena manusia kurang baik secara individu. Kerusakan lahir dari cara pandang hidup yang salah, lalu melahirkan sistem yang salah.

Dan sekularisme — yang memisahkan agama dari kehidupan — telah menjadikan Islam hanya tinggal simbol spiritual, bukan solusi kehidupan.

Lalu Bagaimana Menjadi Muslim Totalitas?

Perjalanan menuju Islam kaffah tidak dimulai dari slogan.

Ia dimulai dari kesadaran berpikir.

Dari keberanian untuk bertanya dengan jujur:

Benarkah Islam adalah petunjuk hidup terbaik dari Allah?

Jika jawabannya iya, maka konsekuensinya besar.

Islam harus dipelajari lebih dalam, bukan sekadar potongan nasihat atau kutipan motivasi.

Seorang Muslim perlu membiasakan dirinya melihat segala persoalan dengan sudut pandang Islam.

Tentang pekerjaan. Tentang pendidikan. Tentang ekonomi. Tentang pergaulan. Tentang media. Tentang masyarakat. Tentang negara. Tentang arah peradaban manusia.

Karena seorang Muslim totalitas tidak sibuk bertanya:

“Apa yang sedang tren?”

Tetapi:

“Apa hukum Allah dalam perkara ini?”

Inilah yang membedakan Islam sebagai agama ritual dengan Islam sebagai mabda’ kehidupan.

Dan perjalanan ini tidak mudah jika ditempuh sendirian.

Karena itu penting berada di lingkungan yang menjaga semangat keislaman, membangun pola pikir Islam, dan terus mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia, tetapi juga memperjuangkan ketaatan kepada Allah secara menyeluruh.

Sebuah Renungan

Menjadi Muslim totalitas bukan pilihan tambahan bagi orang yang ingin terlihat lebih religius.

Ini adalah konsekuensi dari keimanan itu sendiri.

Sebab ketika seseorang bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka sejatinya ia juga menyatakan bahwa aturan Allah layak menjadi pedoman seluruh kehidupannya.

Muslim Totalitas lahir dari kegelisahan sederhana:

Mengapa Islam yang sempurna justru dipahami secara sempit? Mengapa umat sebesar ini kehilangan arah? Mengapa banyak persoalan manusia diselesaikan dengan sistem yang justru melahirkan kerusakan baru?

Tulisan ini bukan ajakan untuk merasa paling suci.

Ini ajakan untuk mulai berpikir.

Bahwa mungkin selama ini kita belum benar-benar menjadikan Islam sebagai pusat kehidupan.

Dan bisa jadi, perjalanan menuju Islam kaffah dimulai dari satu pertanyaan yang sangat jujur:

Sudahkah kita menjadi Muslim secara totalitas? [MT]

Bagikan konten ini:
Sebelumnya Rupiah Lemah, Fondasi Ekonomi Dipertanyakan