Setiap tahun, Hari Kebangkitan Nasional diperingati dengan berbagai tema tentang kemajuan, persatuan, dan optimisme masa depan. Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang benar-benar dibahas: apa sebenarnya makna kebangkitan?
Apakah sebuah bangsa disebut bangkit hanya karena ekonominya tumbuh? Apakah gedung-gedung tinggi, jalan tol, hilirisasi industri, dan transformasi digital otomatis menandakan sebuah peradaban sedang menuju kemuliaan? Atau jangan-jangan manusia modern hari ini justru sedang mengalami kemunduran dalam bentuk yang lebih halus?
Di banyak negara, termasuk yang dianggap maju, kita melihat paradoks. Teknologi berkembang pesat, tetapi angka depresi dan kesepian meningkat. Akses informasi terbuka luas, tetapi disinformasi juga semakin masif. Kekayaan global meningkat, tetapi kesenjangan justru melebar. Ini menunjukkan bahwa kemajuan material tidak selalu berjalan seiring dengan kualitas kehidupan manusia.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam pembukaan kitab Nizhamul Islam menjelaskan sebuah kaidah mendasar tentang kebangkitan manusia dan peradaban. Bahwa kebangkitan (nahdhah) pada hakikatnya bergantung pada cara manusia memandang kehidupan, alam semesta, dan manusia, serta hubungannya dengan apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan apa yang ada sesudahnya.
Karena itu, kebangkitan sejati tidak pertama kali lahir dari kekayaan, teknologi, militer, ataupun sumber daya alam, melainkan dari perubahan mendasar dalam pemikiran manusia.
Beliau menjelaskan bahwa perilaku manusia selalu dibangun di atas mafahim—pemahaman yang dimilikinya terhadap kehidupan. Cara seseorang memandang sesuatu akan menentukan sikap dan tindakannya. Maka selama pemikiran manusia dibangun di atas asas yang keliru, selama itu pula kehidupan akan terus melahirkan berbagai bentuk kerusakan, meskipun secara lahir tampak maju.
Sebaliknya, ketika manusia memiliki pemikiran mendasar (fikrah kulliyyah) yang benar tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta, maka dari sanalah lahir perubahan perilaku, arah hidup, dan peradaban.
Pandangan ini juga tampak dalam penjelasan beliau di kitab Nizhamul Iqtishadi fil Islam. Kekayaan hakiki bukan semata banyaknya harta atau melimpahnya sumber daya, melainkan adanya pemikiran yang benar dan produktif. Sebab materi pada dasarnya hanyalah potensi. Ia bisa menjadi jalan kemuliaan, tetapi bisa pula menjadi sumber kerusakan—tergantung cara pandang yang mengelolanya.
Karena itu, kebangkitan sejati sesungguhnya adalah kebangkitan pemikiran.
Inilah yang sering luput dipahami hari ini.
Banyak bangsa tampak maju secara fisik. Kota-kota dipenuhi gedung menjulang. Infrastruktur terus dibangun. Teknologi berkembang sangat cepat. Namun di saat yang sama, berbagai krisis justru semakin nyata.
Keluarga menjadi semakin rapuh. Budaya konsumtif dan hedonis makin menguat. Kesenjangan ekonomi sulit ditekan meski pertumbuhan tinggi. Korupsi tetap terjadi bahkan di sistem yang terlihat modern. Eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung dalam berbagai bentuk.
Bahkan dalam konteks global, ketergantungan ekonomi melalui utang, investasi, dan dominasi korporasi menunjukkan bahwa bentuk-bentuk penjajahan tidak benar-benar hilang—hanya berubah wajah.
Mengapa ini terjadi?
Karena problem utama manusia bukan sekadar keterbelakangan material, melainkan cara berpikir yang mendasari seluruh sistem kehidupan.
Hari ini, dunia modern banyak dibangun di atas paradigma sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan. Dari sinilah berbagai sistem disusun, termasuk ekonomi, pendidikan, dan politik.
Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, maka standar benar dan salah perlahan bergeser menjadi untung dan rugi. Kebijakan sering lebih dipengaruhi oleh kepentingan pasar daripada kebutuhan masyarakat luas. Pendidikan cenderung diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, bukan membentuk manusia yang utuh. Media membentuk gaya hidup yang mendorong konsumsi tanpa batas. Kesuksesan diukur terutama dari materi.
Dalam kondisi seperti ini, manusia memang bisa maju secara teknologi, tetapi kehilangan arah hidup.
Akhirnya, kebangkitan pun dimaknai secara dangkal. Bangkit identik dengan pertumbuhan ekonomi. Bangkit dianggap cukup dengan pembangunan infrastruktur. Bangkit dipersempit menjadi transformasi digital.
Padahal semua itu hanyalah alat, bukan arah.
Sebuah bangsa bisa membangun jalan yang megah, tetapi gagal membangun manusia yang jujur. Mampu menciptakan teknologi canggih, tetapi tidak mampu menjaga moral generasi. Memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi kesejahteraan tidak merata.
Karena ukuran kebangkitan sejati bukan sekadar kemajuan fisik, melainkan arah peradaban yang dibangun.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa kebangkitan harus dibangun di atas aqidah ‘aqliyyah—akidah yang lahir dari proses berpikir yang memberikan jawaban menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta.
Dari akidah inilah lahir cara pandang hidup. Dari cara pandang hidup lahir standar perbuatan. Dari standar perbuatan lahir aturan dan sistem. Dan dari sistem itulah arah peradaban dibentuk.
Inilah mengapa Islam tidak datang sekadar mengatur ibadah ritual. Islam datang membawa mabda’, sebuah pandangan hidup yang menyeluruh.
Islam menjelaskan untuk apa manusia hidup. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah. Islam mengatur hubungan sosial. Islam memiliki aturan ekonomi. Islam memiliki pedoman dalam pendidikan dan kehidupan publik.
Dengan demikian, Islam tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah di bawah dominasi kepentingan sesaat.
Karena itu, kebangkitan umat tidak cukup dibangun hanya dengan semangat spiritual, nostalgia kejayaan masa lalu, atau slogan persatuan.
Umat perlu kembali memiliki cara pandang Islam dalam melihat seluruh persoalan kehidupan.
Ketika ekonomi bermasalah, umat mampu melihat akar sistemnya. Ketika pendidikan mengalami krisis, umat memahami paradigma yang melahirkannya. Ketika moral generasi menurun, umat sadar bahwa media dan budaya bukan sesuatu yang netral. Ketika terjadi ketimpangan global, umat memahami bahwa persoalan ini juga terkait dengan ideologi dan sistem.
Sebab seluruh sistem kehidupan lahir dari cara pandang tertentu.
Kapitalisme melahirkan peradaban kapitalistik. Sosialisme melahirkan masyarakat sosialis. Dan Islam melahirkan peradaban Islam.
Karena itu, kebangkitan umat tidak akan terwujud secara utuh jika masih menggunakan cara pandang yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ingin ditegakkan.
Kebangkitan dimulai ketika kaum muslim kembali menjadikan aqidah Islam sebagai asas berpikir, asas menilai, dan asas mengatur kehidupan.
Bukan sekadar identitas. Bukan hanya simbol. Tetapi menjadi landasan dalam menentukan benar dan salah, baik dan buruk, serta arah kehidupan individu dan masyarakat.
Sebab umat yang kehilangan pemikiran akan mudah diarahkan, meskipun secara formal tampak merdeka.
Penjajahan hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Ia bisa hadir melalui kurikulum pendidikan. Melalui arus informasi dan media. Melalui budaya konsumtif. Melalui ketergantungan ekonomi.
Bahkan melalui cara berpikir yang membuat manusia merasa asing terhadap nilai yang seharusnya menjadi pegangan hidupnya sendiri.
Dan ketika cara berpikir sudah terbentuk oleh sistem luar, manusia sering tidak merasa sedang diarahkan.
Karena itu, perjuangan kebangkitan sejati pada hakikatnya adalah perjuangan membangun kembali pemikiran.
Membangun kesadaran tentang siapa manusia. Untuk apa hidup. Nilai apa yang seharusnya menjadi dasar kehidupan. Dan peradaban seperti apa yang ingin diwujudkan.
Di situlah makna kebangkitan yang hakiki.
Bukan sekadar bangkit berdiri. Tetapi bangkit dengan arah yang jelas. Bukan hanya bergerak. Tetapi bergerak menuju tujuan yang benar.
Sebab sebuah umat tidak akan benar-benar bangkit hanya karena kaya, kuat, atau maju secara teknologi.
Umat akan bangkit ketika memiliki pemikiran yang benar.
Dan dari sanalah peradaban besar selalu bermula. [MT]